RIAUREVIEW.COM --- Di sela hamparan kebun sawit di Kampung Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, berdiri seorang guru matematika dengan mimpi yang bagi sebagian orang terdengar nyaris mustahil. Namanya Suparwoto, 56 tahun. Selama 36 tahun mengabdi sebagai ASN guru di SMP Negeri 2 Dayun, hidupnya tak pernah jauh dari dunia pendidikan. Namun di balik rutinitas mengajar angka dan rumus di kelas, ia menyimpan kecintaan lain, yaitu bercocok tanam.
Kecintaan itu perlahan tumbuh menjadi keberanian besar ketika ia mendengar tentang program replanting kelapa sawit yang mensyaratkan adanya tanaman ketahanan pangan. Informasi itu ia peroleh dari situs resmi Kementerian Pertanian. Dari situlah rasa penasarannya muncul.
Di tengah banyak petani yang lebih memilih bertahan di zona nyaman berkebun sawit, Suparwoto justru melihat peluang baru. Sebuah tantangan yang belum tentu berhasil, tetapi layak diperjuangkan.
"Kalau tidak ada yang mulai, kapan petani mau mencoba?" begitu kira-kira keyakinan yang ia tanam dalam dirinya.
Meski tidak memiliki kebun sawit sendiri, ia memberanikan diri menawarkan diri kepada Gapoktan Manunggal Sakti untuk ikut menggarap program tersebut. Ia mendapat izin memanfaatkan lahan sawit seluas enam hektare untuk menanam padi Gogo. Di sela tanaman sawit itulah, ia memulai perjalanan panjang menanam padi Gogo—varietas padi darat yang terbilang baru bagi petani di Siak.
Bukan petani berpengalaman, bahkan Suparwoto mengaku dirinya sama sekali belum pernah menanam padi sebelumnya. Namun keberanian sering kali lahir bukan karena seseorang merasa mampu, melainkan karena ia memilih untuk mencoba.
Motivasi terbesar datang dari sosok menantunya yang selama ini hidup dari hasil bertani padi. Dari situlah Suparwoto mulai percaya bahwa sawah, tanah dan bulir padi bisa menjadi sumber kehidupan yang nyata.
Ia lalu mempelajari banyak hal secara mandiri. Sebagai seorang guru yang terbiasa berpikir logis dan mencari solusi, Suparwoto tidak berhenti pada teori. Ia mulai merancang alat tanam sendiri di workshop sederhana di rumahnya. Alat untuk menandur padi Gogo itu ia beri nama Tabela Gogo, sebuah alat rakitan yang dirancang untuk mengeruk tanah sekaligus menebar benih secara otomatis agar pekerjaan lebih efektif dan efisien. Kreativitas itu lahir dari keterbatasan. Ia sadar tidak mungkin bekerja dengan cara biasa di tengah lahan perkebunan yang medan dan kondisi tanahnya jauh berbeda dengan sawah.
*Perjuangan Dimulai*
Bersama enam pekerja, Suparwoto menanam padi secara bertahap sejak Desember. Tak ada irigasi, tak ada aliran air melimpah seperti sawah pada umumnya. Seluruh pengairan 100 persen hanya bergantung pada hujan.
Padi Gogo memang dikenal tahan terhadap kondisi kering. Tetapi bukan berarti mudah ditanam.
Di lapangan, tantangan datang silih berganti. Struktur tanah di kebun sawit ternyata tidak merata. Ada bagian tanah yang subur, ada pula yang miskin humus. Akibatnya pertumbuhan tanaman tidak seragam.
Untuk menyiasatinya, Suparwoto harus memberikan perlakuan berbeda di tiap titik lahan. Tanah yang kurang subur diberi pupuk kandang dan pupuk cair tambahan. Semua biaya ditanggung sendiri. Mulai dari pupuk, obat-obatan hingga tenaga kerja, semuanya menggunakan dana pribadi karena tidak mendapat subsidi.
Namun lelaki itu tidak menyerah. Ia terus merawat tanamannya hingga memasuki masa generatif. Nutrisi diberikan penuh agar bulir padi dapat tumbuh maksimal.
Hari demi hari berlalu bersama harapan yang terus dipupuk di antara batang-batang sawit. Hingga akhirnya, Maret datang membawa kabar menggembirakan.
Padi Gogo yang semula diragukan, tumbuh menguning dan siap dipanen. Dari luas tanam tiga hektare itu, Suparwoto berhasil menghasilkan sekitar 2,3 ton gabah basah. Hasil yang menurutnya sangat baik untuk percobaan perdana di lahan perkebunan sawit.
Bagi sebagian petani, angka itu mungkin tidak masuk hitungan. Tetapi bagi Suparwoto, setiap bulir gabah adalah bukti bahwa keberanian mencoba tidak pernah sia-sia.
Panen itu pun disambut hangat. Pemerintah daerah, gabungan kelompok tani hingga aparat desa memberikan dukungan penuh. Bahkan panen raya digelar secara khusus dan dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Siak, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, TNI, hingga perangkat kampung setempat.
Di tengah suasana panen, Suparwoto berdiri dengan wajah penuh syukur. Seorang guru matematika yang tak pernah menyangka dirinya mampu menaklukkan tantangan menanam padi Gogo.
"Bagi saya ini membanggakan. Saya pemula, belum pernah tanam padi, tapi ternyata bisa sampai panen," ucapnya sederhana.
Kisah Suparwoto bukan sekadar tentang hasil panen. Ini adalah cerita tentang keberanian keluar dari kebiasaan. Tentang keyakinan bahwa sesuatu yang sulit bukan berarti mustahil dilakukan.
Di tengah dominasi sawit yang selama ini menjadi sandaran ekonomi masyarakat, ia menunjukkan bahwa lahan perkebunan pun masih bisa melahirkan bulir-bulir pangan.
Dan mungkin, dari keberanian satu orang guru di sudut Siak inilah, harapan baru tentang ketahanan pangan mulai tumbuh.
Sumber: cakaplah.com