RIAUREVIEW.COM --Transformasi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara siswa memperoleh informasi, tetapi juga mendorong guru untuk beradaptasi dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih inovatif. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah penyusunan buku ajar digital yang mampu menghadirkan materi pembelajaran secara lebih interaktif, fleksibel, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Menyadari pentingnya peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi era digital, tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lancang Kuning (FEB Unilak) menyelenggarakan pelatihan Penguatan Kompetensi Guru SMK 5 Agustus dalam Menyusun Buku Ajar Digital Berbasis Artificial Intelligence (AI) pada 17 Juni 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh delapan orang guru yang berasal dari berbagai bidang studi, yaitu Teknologi Informasi, Kesehatan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Budaya Melayu. Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai perkembangan teknologi digital dan AI dalam dunia pendidikan, pentingnya buku ajar digital sebagai media pembelajaran, tahapan penyusunan dan penerbitan buku ajar ber-ISBN, serta praktik penyusunan buku ajar dengan memanfaatkan berbagai aplikasi berbasis AI.
Metode pelatihan dirancang secara partisipatif melalui ceramah, diskusi interaktif, demonstrasi, dan pendampingan sehingga guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung.
Tim pengabdian masyarakat dari FEB Unilak (Dr. Fatkhurahman; Dr. Aznuriyandi; dan Prof. Dr. Arizal) menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurutnya, AI bukanlah teknologi yang menggantikan peran guru, melainkan alat yang membantu guru bekerja lebih efektif dalam menyusun materi, mencari referensi, mengembangkan media pembelajaran, hingga menghasilkan buku ajar yang lebih berkualitas. "Guru tetap menjadi aktor utama dalam proses pendidikan. AI hanya menjadi mitra yang mempercepat proses kreatif sehingga guru dapat lebih fokus pada pembelajaran yang bermakna dan pengembangan karakter peserta didik," ujarnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi peserta. Rata-rata skor pengetahuan dan pemahaman guru meningkat dari 1,4 sebelum pelatihan menjadi 2,7 setelah kegiatan. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa para guru semakin memahami manfaat buku ajar digital, pentingnya inovasi dalam pengembangan bahan ajar, pemanfaatan umpan balik siswa sebagai dasar penyempurnaan materi, serta teknik penyusunan buku ajar digital yang sesuai dengan perkembangan teknologi pendidikan.
Kepala SMK 5 Agustus, Doni Rahman, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada tim pengabdian FEB Unilak atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin berbasis teknologi. Ia berharap seluruh guru mampu menindaklanjuti pelatihan ini dengan menyusun buku ajar digital sesuai mata pelajaran yang diampu sehingga dapat dimanfaatkan secara langsung dalam proses pembelajaran. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, buku ajar karya guru juga diharapkan menjadi identitas akademik sekolah dan memperkuat budaya literasi di lingkungan SMK 5 Agustus.
Pelatihan ini memberikan manfaat yang luas, baik bagi guru maupun sekolah. Guru memperoleh peningkatan kompetensi profesional, kemampuan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, serta peluang menghasilkan buku ajar ber-ISBN sebagai bagian dari pengembangan karier. Di sisi lain, sekolah memperoleh sumber belajar yang disusun sesuai kebutuhan peserta didik, memperkuat implementasi pembelajaran berbasis teknologi, serta meningkatkan citra sekolah sebagai institusi yang adaptif terhadap perkembangan digital.
Kolaborasi antara FEB Unilak dan SMK 5 Agustus ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama yang berkelanjutan dalam menciptakan inovasi pembelajaran, sehingga guru semakin siap menghadapi tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif di masa depan.*