RIAUREVIEW.COM --Bentrokan berdarah di areal perkebunan kelapa sawit eks PT Berkat Satu, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, yang menelan korban jiwa berlangsung mencekam.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang saksi mata sekaligus korban selamat, Adi. Kepada media ia mengatakan bentrokan terjadi secara tiba-tiba saat para pekerja sedang beristirahat.
“Kami sedang istirahat di barak. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang mengaku dari KSO PT Agrinas Palma Nusantara. Situasi langsung kacau dan kami berusaha menyelamatkan diri lewat bagian belakang barak,” ujar Adi.
Pasca bentrokan, para pekerja koperasi bersama pengurus dari tiga desa mendatangi Polsek Bonai Darussalam untuk membuat laporan polisi. Laporan tersebut tercatat dengan Nomor: STTLP/B/7/II/2026/SPKT/POLSEK BONAI DARUSSALAM/POLRES ROKAN HULU/POLDA RIAU, tertanggal 8 Februari 2026, dengan dugaan tindak pidana penganiayaan berat dan dugaan pembunuhan berencana.
Salah seorang perwakilan pekerja koperasi sekaligus pelapor, Yulius Haki, menyatakan pihaknya menempuh jalur hukum agar peristiwa tersebut dapat diproses secara adil dan transparan.
“Kami melaporkan kejadian ini ke kepolisian agar ada kejelasan hukum. Kami berharap aparat menindaklanjuti laporan kami secara profesional dan memberikan rasa keadilan bagi korban dan keluarga,” kata Yulius.
Polisi bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut. Hingga Ahad (8/2/2026) sore, Kepolisian Resor Rokan Hulu telah mengamankan 12 orang terduga pelaku untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Kasat Reserse Kriminal Polres Rokan Hulu, AKP Tony Prawira, memastikan proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan.
“Kami telah mengamankan sejumlah terduga pelaku dan saat ini masih melakukan pendalaman. Seluruh pihak yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum,” kata AKP Tony.
Sementara itu, Camat Bonai Darussalam menjadwalkan pertemuan para pihak pada Selasa, 10 Februari 2026. Berdasarkan laporan dari pihak koperasi, dalam pertemuan tersebut mereka meminta PT Agrinas Palma Nusantara mengevaluasi dan membatalkan kerja sama dengan PT Nusantara Sawit Majuma (NSM) sebagai KSO.
Pihak koperasi menyatakan, apabila dalam pertemuan tersebut tidak ada keputusan evaluasi terhadap KSO, para pekerja dan masyarakat yang tergabung dalam koperasi berencana melakukan aksi di areal perkebunan serta di Kantor PT Agrinas Palma Nusantara Regional Riau 2.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa bentrokan berdarah tersebut terjadi di Dusun IV Rintis, Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam. Berdasarkan informasi yang dihimpun, bentrokan melibatkan pekerja dari tiga koperasi, yakni Koperasi Sontang Bertuah Desa Sontang, Koperasi Telago Biru Sakti Desa Kasang Padang, dan Kelompok Tani Sakai Bersatu Desa Pauh, dengan Pam Swakarsa PT Nusantara Sawit Majuma (NSM), mitra kerja sama operasional (KSO) PT Agrinas Palma Nusantara (APN), Sabtu (7/2/2026) sore. Satu orang dilaporkan tewas, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Bentrokan di areal perkebunan PT Berkat Satu ini menjadi insiden kekerasan kedua dalam waktu kurang dari satu bulan. Sebelumnya, pada Senin (12/1/2026), aksi penyerangan juga terjadi di lokasi yang sama saat tim melakukan pengecekan lahan.
Dalam peristiwa tersebut, tujuh orang dilaporkan menjadi korban tembakan. Rentetan kejadian ini semakin menegaskan masih tingginya potensi konflik dan lemahnya pengamanan di kawasan perkebunan yang telah dikuasai kembali oleh negara namun belum sepenuhnya terbebas dari gesekan di lapangan.
Sumber: cakaplah.com