Warga Diserang Monyet Ekor Panjang di Inhil, BBKSDA Riau Siapkan Kandang Perangkap

Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:10:15 WIB
BBKSDA Riau Siapkan Kandang Perangkap

RIAUREVIEW.COM --Konflik antara manusia dan satwa liar jenis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, terus menjadi perhatian.

Hingga 5 Agustus 2026, tercatat sebanyak 19 warga mengalami luka akibat serangan monyet.

Menyikapi kejadian tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memperkuat penanganan bersama pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Indragiri Hilir.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Namun, upaya penanganan tetap harus mengedepankan prinsip konservasi satwa liar.

Ia menjelaskan, BBKSDA Riau terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko lebih besar.

"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi, tanpa menimbulkan risiko bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri," ujar Supartono, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau pada Rabu (5/8/2026) telah menggelar koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota untuk menyamakan langkah penanganan serta mengevaluasi perkembangan konflik.

Berdasarkan hasil pemantauan, serangan terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, Parit 15, dan Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota.

"Konflik mulai dilaporkan sejak 23 Juli 2026 dan hingga kini telah menyebabkan 19 warga terluka, sekaligus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," kata Supartono.

BBKSDA Riau, kata Supartono, menduga serangan dilakukan oleh seekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan yang memiliki ciri khusus berupa bekas luka (codet) di bagian pipi.

Pola serangannya menyasar korban yang sedang sendirian atau lengah, dengan menggigit bagian kaki sebelum melarikan diri. Hingga saat ini, satwa tersebut juga belum merespons umpan berupa pisang yang dipasang petugas.

Sebelum Tim WRU diterjunkan, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, dan masyarakat telah melakukan penyisiran menggunakan jaring dan tangguk serta berbagai langkah mitigasi untuk mencegah bertambahnya korban.

Warga diminta tidak memburu monyet tersebut.

"Petugas akan memperkuat pemantauan dan menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi apabila satwa berhasil diidentifikasi," tutur Supartono.

Supartono juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, menghindari beraktivitas sendirian di lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberi makan monyet liar, serta segera melapor kepada petugas jika melihat monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi.

"Kami berharap kerja sama semua pihak untuk dapat mengakhiri konflik tanpa menimbulkan korban baru maupun mengancam kelestarian satwa liar," pungkas Supartono.

 

 

Sumber: cakaplah.com

Terkini