Bukan Cuma Balapan Perahu, Pacu Jalur 2026 Bawa Misi Selamatkan Sungai Kuantan

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:44:57 WIB
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, memukul gong tanda dimulainya Pacu Jalur 2026 di Tepian Narosa, Kuantan Singingi. (sumber: istimewa)

RIAUREVIEW.COM --Pacu Jalur 2026 resmi membuka lembaran persaingannya di Tepian Narosa, Kuantan Singingi. Gong pembukaan dipukul Plt Gubernur Riau SF Hariyanto pada Rabu, 19 Agustus 2026. Festival berlangsung hingga 23 Agustus dan membawa pesan kuat soal kelestarian Sungai Kuantan.

Pacu Jalur memang identik dengan perahu panjang dan adrenalin. Namun tahun ini, pemerintah membawa urusan lebih besar ke tepian sungai. Sungai Kuantan diminta tetap menjadi rumah kehidupan, bukan sekadar lintasan perlombaan.

Pembukaan berlangsung meriah dengan penampilan tari massal di kawasan Tepian Narosa. Wakapolda Riau Brigjen Hengki Haryadi turut hadir bersama pejabat utama Polda Riau. Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana juga hadir bersama jajaran Forkopimda.

Pacu Jalur kembali menjadi magnet masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah. Tradisi tersebut kini semakin dikenal hingga luar negeri. Popularitas yang terus tumbuh justru membuat tanggung jawab menjaga lingkungannya semakin besar.

SF Hariyanto menilai Pacu Jalur tidak boleh berhenti sebagai tontonan budaya tahunan. Festival tersebut harus memberi dampak langsung kepada masyarakat Kuansing. Pariwisata, UMKM, konektivitas, dan ekonomi lokal menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

“Semakin besar nama Pacu Jalur, semakin besar tanggung jawab menjaganya,” ujar SF Hariyanto. Pesan itu terdengar sederhana, tetapi memiliki pekerjaan rumah cukup panjang. Sebab sungai menjadi panggung utama sekaligus sumber kehidupan masyarakat setempat.

Sungai Kuantan selama ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Airnya bukan sekadar membelah wilayah dan menjadi arena perlombaan. Sungai juga berkaitan dengan penghidupan, ekonomi, serta identitas masyarakat Kuantan Singingi.

Karena itu, pemerintah meminta pelestarian sungai berjalan bersamaan dengan pengembangan festival. Jangan sampai popularitas Pacu Jalur meningkat, sementara kondisi sungai justru memburuk. Festival budaya akan kehilangan makna jika ruang hidupnya dibiarkan rusak.

“Jangan sampai jalurnya dibanggakan, tetapi sungainya justru dibiarkan rusak,” kata SF Hariyanto. Ia menilai tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada pemerintah. Masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan aparat memiliki peran masing-masing.

Pesan tersebut berkaitan dengan upaya penertiban aktivitas pertambangan tanpa izin. Pemerintah dan kepolisian sebelumnya ikut menangani aktivitas PETI di sekitar Sungai Kuantan. Penertiban menjadi bagian dari upaya menjaga sungai tetap memiliki fungsi ekologis.

SF Hariyanto juga mengapresiasi dukungan jajaran Polda Riau dalam menjaga kawasan tersebut. Kapolda Riau, Wakapolda Riau, dan Kapolres Kuansing turut mendapat apresiasi. Pemerintah daerah dan masyarakat juga dinilai memiliki peran penting.

Di sisi lain, Pacu Jalur membawa peluang ekonomi yang tidak kecil. Ribuan orang datang untuk menyaksikan perlombaan dan menikmati suasana festival. Pergerakan tersebut membuka ruang bagi pedagang, pelaku UMKM, penginapan, transportasi, hingga usaha kuliner.

Produk lokal Kuansing juga mendapat kesempatan memperluas pasar melalui momentum tersebut. Salah satunya Batik Kuansing yang memiliki ciri khas daerah. Produk tersebut dapat tampil lebih dekat dengan wisatawan yang datang selama festival berlangsung.

SF Hariyanto mendorong pelaku UMKM memanfaatkan keramaian tersebut secara maksimal. Menurutnya, produk lokal harus mendapat ruang dalam kegiatan budaya besar. Dengan begitu, uang wisatawan tidak hanya berputar di arena perlombaan.

“Salah satu kekuatan Pacu Jalur adalah tingginya perputaran ekonomi,” ujar SF Hariyanto. Ia mendorong pelaku usaha menampilkan produk khas daerah selama festival. Momentum tersebut dinilai dapat memperkenalkan produk Kuansing ke pasar lebih luas.

Pacu Jalur juga berkaitan dengan konektivitas wilayah. Akses yang semakin baik akan memudahkan wisatawan menuju Kuantan Singingi. Distribusi barang dan mobilitas masyarakat juga berpotensi semakin lancar.

Konektivitas menjadi bagian penting dalam mengembangkan pariwisata daerah. Wisatawan membutuhkan akses jalan yang nyaman dan waktu tempuh yang masuk akal. Pelaku usaha juga membutuhkan jalur distribusi agar produk lokal mudah bergerak.

Festival tahun ini berlangsung sampai 23 Agustus 2026. Selama periode tersebut, Tepian Narosa diperkirakan dipenuhi pengunjung. Keramaian itu menjadi peluang bagi masyarakat untuk menggerakkan ekonomi secara langsung.

Namun pemerintah tidak ingin festival hanya menghasilkan kerumunan sementara. Ada target lebih panjang untuk menjadikan Pacu Jalur sebagai penggerak ekonomi. Tradisi budaya diharapkan mampu menciptakan efek berantai bagi masyarakat.

Pacu Jalur juga sudah masuk dalam agenda pariwisata nasional. Popularitas tersebut membuat Kuansing memiliki peluang memperkuat identitas wisatanya. Tinggal memastikan promosi berjalan beriringan dengan perbaikan fasilitas dan perlindungan lingkungan.

Pada titik ini, Sungai Kuantan menjadi cerita paling penting. Perahu boleh berlomba mengejar garis finis setiap tahun. Namun sungai harus tetap mengalir sehat setelah sorak-sorai penonton menghilang.

Pemerintah Provinsi Riau berharap seluruh pihak menjaga momentum tersebut. Festival harus memberi manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan. Dua kepentingan itu tidak perlu saling berebut tempat.

Polda Riau juga ikut mendorong masyarakat menjaga Sungai Kuantan. Aparat memiliki peran dalam penegakan aturan terhadap aktivitas yang merusak lingkungan. Masyarakat memiliki peran melalui pengawasan dan kepedulian sehari-hari.

Pacu Jalur akhirnya bukan cuma urusan siapa tercepat di sungai. Festival ini juga berbicara tentang siapa paling serius merawat sungai. Sebab ketika perahu kembali ke tepian, masyarakat tetap membutuhkan sungai untuk kehidupan.

Bagi Kuantan Singingi, lima hari festival mungkin terasa singkat. Namun dampaknya bisa panjang jika dikelola dengan serius. Pacu Jalur dapat menjadi mesin pariwisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Syaratnya sederhana, tetapi tegas: sungainya harus tetap hidup. Tradisi boleh semakin mendunia tanpa kehilangan akar ekologisnya. Dan Tepian Narosa harus terus menjadi panggung budaya tanpa mengorbankan Sungai Kuantan.

 

 

 

Sumber: SM News.com

Terkini