Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17.000, Siap-siap Harga Barang Impor Bakal Melambung Tinggi!

Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17.000, Siap-siap Harga Barang Impor Bakal Melambung Tinggi!
Ilustrasi nilai tukar Rupiah dengan Dolar AS (ist), SM News.com

RIAUREVIEW.COM --Rupiah nyaris jatuh ke jurang psikologis yang lama bikin pasar gelisah. Pada penutupan perdagangan, Senin, 16 Maret 2026, mata uang Garuda berhenti di Rp16.997 per dolar AS. Angka itu melemah 39 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya Rp16.958. Selisihnya tipis dari level 17.000, tapi efeknya tebal di kepala pelaku pasar.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga ikut lesu. Nilainya bergerak ke Rp16.990 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.934. Ini memberi sinyal satu hal yang sulit dibantah. Tekanan pada rupiah bukan cuma terlihat di layar perdagangan, tapi juga terekam dalam acuan resmi.

Di pasar spot, tekanan sempat mendorong rupiah nyaris pas di level Rp17.000 per dolar AS pada siang hari. Data Bloomberg pada pukul 14.40 WIB mencatat pelemahan harian 0,25 persen. Angka itu menunjukkan pasar bergerak dengan napas pendek. Setiap sentimen global langsung mengguncang kurs.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menilai tekanan utama datang dari penguatan dolar AS di pasar global. Menurut dia, dana global sedang mencari tempat berlindung. “Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan dolar AS,” kata Amru.

Ucapan itu bukan sekadar kalimat pasar yang biasa. Saat ketidakpastian global meninggi, dolar AS tampak seperti rumah beton di tengah badai. Rupiah dan mata uang negara berkembang lain jadi seperti atap seng yang lebih mudah bergetar. 

Dolar Menguat, Rupiah Kena Guncang

Sumber tekanan paling terasa datang dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan itu membuat pelaku pasar menahan risiko. Saat risiko naik, dolar AS ikut mendapat panggung lebih besar. Pasar global bergerak seperti orang yang mendadak menarik uangnya ke tempat yang dianggap aman.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga melihat arah yang sama. Menurut dia, konflik di Timur Tengah ikut menekan sentimen risiko. “Ketidakpastian yang masih berlanjut turut menekan sentimen pasar,” ujar Josua.

Situasi bertambah panas setelah muncul laporan soal peningkatan skala serangan terkait Iran. Lalu ada kabar pengerahan unit ekspedisi Marinir Amerika Serikat ke kawasan itu. Rangkaian perkembangan ini membuat pasar global makin tegang. Timur Tengah memang bukan sekadar titik di peta. Kawasan ini menyangkut urat nadi energi dunia.

Saat ketegangan naik, harga minyak ikut terdorong. Inilah simpul lain yang membuat rupiah makin berat bergerak. Pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, harga minyak Brent melonjak 2,67 persen ke level 103,14 dolar AS per barel. Harga energi yang naik memberi tekanan tambahan ke pasar keuangan global.

Kenaikan minyak membuat kekhawatiran pasar makin lengkap. Jika pasokan energi terganggu, inflasi bisa kembali sulit jinak di banyak negara. Akibatnya bank sentral besar, terutama Federal Reserve, bisa tetap galak dalam urusan bunga. Saat bunga tinggi bertahan, dolar AS makin nyaman duduk di kursi kuatnya.

Amru menyorot inflasi AS yang masih ada di kisaran 2,4 persen secara tahunan. Angka ini dianggap cukup stabil untuk menjaga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. “Stabilitas pasar valas dan likuiditas dolar sangat penting,” kata Amru. Pesan itu menunjukkan tekanan rupiah bukan cuma soal satu hari perdagangan, tapi soal arah sentimen yang lebih panjang.

Meski begitu, ada satu data dari Amerika Serikat yang sempat menahan laju dolar. Produk Domestik Bruto AS kuartal IV-2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen quarter on quarter dari estimasi sebelumnya 1,4 persen. Revisi ini memberi tanda ekonomi AS mulai kehilangan tenaga. Namun sinyal pelemahan itu belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah kembali. 

Pasar Menanti Jurus Penahan

Di tengah tekanan eksternal, rupiah masih punya bantalan dari dalam negeri. Inflasi Indonesia relatif terkendali. Stabilitas makroekonomi masih terjaga. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus. Fondasi ini membuat rupiah belum sepenuhnya jatuh ke mode panik.

Tetap saja, pasar tidak hidup dari fondasi saja. Pasar hidup dari rasa percaya dan rasa takut. Saat rasa takut lebih besar, kurs bisa bergerak lebih liar dari yang dibayangkan. Itulah kenapa angka Rp17.000 kini tampak seperti garis tipis yang diawasi banyak mata.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai rupiah masih berpotensi bergerak dalam tekanan pada semester pertama 2026. Ia memperkirakan pergerakan rupiah ada di kisaran Rp16.700 sampai Rp17.000 per dolar AS. “Level Rp17.000 lebih mencerminkan batas psikologis pasar,” ucap Yusuf.

Angka 17.000 bukan sekadar urusan hitung-hitungan. Level itu punya efek psikologis yang kuat. Saat rupiah mendekati titik itu, pasar biasanya lebih sensitif, lebih reaktif, dan lebih cepat memantul pada sentimen negatif.

Faktor domestik juga tetap masuk hitungan. Stabilitas fiskal dan kepercayaan investor pada prospek ekonomi Indonesia masih jadi bahan bakar utama buat menahan tekanan lebih dalam. Jika dua hal itu kuat, pelemahan rupiah bisa lebih terkendali. Jika goyah, tekanannya bisa lebih berat.

Untuk meredam guncangan, koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia jadi sorotan. Intervensi terukur di pasar valas dan kecukupan likuiditas dolar di pasar domestik dinilai penting. Langkah seperti ini dibutuhkan agar transaksi perdagangan internasional tetap lancar dan volatilitas tidak berubah liar.

 

 

 

Sumber: SM News.com

Berita Lainnya

Index