Sumbangan 2 T Akidi Antara Ada & Tiada, Muhammadiyah 1 T Benar-benar Nyata

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu`ti (Foto: Istimewa)

RIAUREVIEW.COM --Hingga tadi malam, sumbangan Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 dari keluarga Akidi Tio belum jelas juntrungannya. Polda Sumatera Selatan (Sumsel) memberi kabar terbaru, uang keluarga Akidi Tio yang disimpan di Bank Mandiri pun, saldonya tak sampai Rp 2 T. Di saat yang sama, tanpa banyak cing-cong, Muhammadiyah melaporkan sudah menggelontorkan Rp 1 triliun lebih untuk penanganan Corona.

Kemarin, Heriyanti, putri bungsu Akidi Tio, sebetulnya dijadwalkan menjalani pemeriksaan kembali sekitar pukul 09.00 WIB. Tapi hingga sore hari, ia tak juga tiba di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Mapolda Sumsel. Padahal, dalam pemeriksaan sehari sebelumnya, dia menjanjikan, bantuan itu akan cair kemarin.

Belakangan, Heriyanti dikabarkan sesak napas. Satu dokter dan dua perawat datang ke rumahnya, yang berlokasi di Jalan Tugu Mulyo, Kecamatan Ilir Timur I, Kota Palembang. Tak lama berselang, datang ambulans, membawa satu tabung oksigen ukuran besar ke dalam rumah.

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi mengatakan, pemeriksaan Heriyani yang sudah dijadwalkan itu, akhirnya ditunda. "Kami dapat informasi bahwa dia kurang sehat," kata Kombes Supriadi.

 

Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel, Kombes Hisar Siallagan juga mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan Heriyanti. Namun, ia memastikan bakal melakukan pengecekan kesehatan ulang. "Untuk kepastiannya, kita periksa oleh dokter Polri," tegas Hisar, kemarin.

Lalu bagaimana nasib bilyet giro Rp 2 triliun yang dijanjikan Heriyanti? Polda Sumsel sudah menelusuri bilyet giro berlogo Bank Mandiri itu. Dari hasil pengecekan dan koordinasi dengan Bank Mandiri Sumsel, ternyata saldonya tak sampai 2 T. "Di rekening bilyet tersebut tidak cukup saldonya," jelas Supriadi sebagaimana dikutip dari RM.id.

Berapa uang Heriyanti sebenarnya? Supriadi menggeleng. Dia menerangkan, pihak bank merahasiakan, karena dilarang Undang-Undang membuka data nasabah. "Hanya saja, ditegaskan saldo tidak cukup pada rekening tersebut," sambungnya.

Pihak Bank Mandiri yang dikonfirmasi Rakyat Merdeka juga masih belum memberikan keterangan terkait bilyet giro Heriyanti tersebut.

Di tengah polemik sumbangan ini, kasus lama Heriyanti di Polda Metro Jaya kembali menyeruak ke permukaan. Heriyanti ternyata juga pernah dilaporkan Ju Bang Kioh terkait dugaan kasus penipuan Rp 7,9 miliar pada 14 Februari 2020. Laporannya teregister dengan Nomor: LP/1025/II/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ.

Dari Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP), Heriyanti disebut sudah dua kali diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya. SP2HP itu diteken Kasubdit VI AKBP Ardi Rahananto.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, duit sebanyak Rp 7,9 miliar yang dipinjam itu diiming-imingi untung besar. Katanya, buat mengerjakan tiga proyek yang ada di Istana Negara, yakni pengadaan songket, pengadaan AC, dan perbaikan interior di 2018.

"Sejak tahun 2018, rupanya saudara pelapor terus menagih hasil atau janji yang diberikan saudari H. Tapi sampai dengan awal 2020, janji tersebut tidak dipenuhi oleh si terlapor atau saudari H," kata Yusri, kemarin.

Namun, ketika Heryanti hendak ditetapkan sebagai tersangka, Ju Bang Kioh mendadak mencabut laporannya. Sehingga penyidik tak lagi melanjutkan kasus itu. Yusri bilang, pihaknya membuka peluang kasus tersebut dikuak kembali. "Tim penyidik akan mengklarifikasi lagi ke pelapor alasan dia mencabut laporannya itu apa," sambungnya.



TULIS KOMENTAR