Rupiah Melemah Gila-Gilaan, Investor Asing Mulai Tinggalkan Indonesia

Rupiah Melemah Gila-Gilaan, Investor Asing Mulai Tinggalkan Indonesia
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)/SM News.com

RIAUREVIEW.COM --Rupiah akhirnya tembus Rp17.700 per dolar AS pada Selasa, 19 Mei 2026, yang membuat pasar langsung gaduh. Nilai tukar mata uang Indonesia itu melemah seperti sandal putus ketika hujan deras datang mendadak siang tadi. Tekanan besar tersebut kembali memunculkan kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik sejak perdagangan pagi dimulai.

Data Bloomberg mencatat rupiah menyentuh level Rp17.706 per dolar AS sekitar pukul 09.28 WIB pagi tadi. Tidak lama berselang, rupiah kembali melemah hingga mencapai posisi Rp17.710 per dolar AS pada perdagangan berikutnya. Pelemahan tersebut menjadi rekor terburuk sepanjang sejarah perdagangan pasar spot domestik sampai hari ini.

Suasana pasar pagi tadi terasa tegang meski layar perdagangan masih terus bergerak seperti biasa sejak pembukaan berlangsung. Investor terlihat sibuk memantau grafik rupiah sambil berharap angka merah berhenti bertambah sepanjang perdagangan hari ini. Namun, dolar AS justru terus melaju seperti motor kopling dipakai anak baru belajar berkendara sore hari.

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah muncul sejak beberapa pekan terakhir akibat sentimen global yang belum juga reda. Konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia naik tinggi, lalu mendorong permintaan dolar AS sebagai aset aman. Yield obligasi Amerika Serikat juga tetap tinggi sehingga modal asing mulai meninggalkan pasar emerging markets.

Indonesia ikut terkena imbas cukup keras ketika investor global mulai memindahkan dana menuju aset berbasis dolar AS. Rupiah akhirnya terlihat limbung seperti warung kopi kehilangan pelanggan saat hujan deras turun menjelang malam hari. Kondisi tersebut membuat pasar mulai mempertanyakan kekuatan stabilitas ekonomi domestik dalam beberapa bulan mendatang.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai tekanan rupiah tidak sekadar dipicu faktor eksternal semata. Menurut dia, pasar mulai menyoroti arah kebijakan makroekonomi Indonesia di tengah pelemahan nilai tukar yang semakin tajam. Situasi tersebut membuat biaya menjaga stabilitas rupiah berpotensi semakin mahal dalam waktu dekat.

“Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor ketika pasar mulai kehilangan keyakinan terhadap stabilitas,” ujar Fakhrul Fulvian, Selasa, 19 Mei 2026. Ia menilai pasar mulai mempertanyakan batas pelemahan rupiah serta arah kebijakan fiskal dan moneter nasional. Kondisi tersebut membuat tekanan pasar terasa semakin berat sepanjang perdagangan domestik hari ini.

Fakhrul juga melihat belum munculnya langkah tegas terkait subsidi energi dan arah kebijakan fiskal pemerintah dalam beberapa waktu mendatang. Akibat kondisi tersebut, tekanan ekonomi akhirnya lebih banyak ditanggung oleh nilai tukar rupiah sepanjang beberapa pekan terakhir perdagangan. Rupiah akhirnya bergerak liar seperti layangan putus tersangkut kabel ketika angin sore datang mendadak.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Dornbusch overshooting dalam teori ekonomi makro modern dunia internasional sampai hari ini. Situasi itu terjadi ketika nilai tukar bergerak jauh melewati fundamental akibat kepanikan pasar tidak terkendali sepenuhnya. Kekhawatiran tersebut mulai terasa kuat setelah rupiah terus mencetak rekor terlemah perdagangan beberapa hari terakhir.

Spekulasi kenaikan BI Rate akhirnya ikut memanas setelah rupiah menembus batas psikologis Rp17.700 perdagangan hari ini. Pasar mulai memperkirakan Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar domestik nasional. Langkah tersebut dianggap penting untuk menahan arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia beberapa waktu mendatang.

Fakhrul menilai Bank Indonesia perlu memakai pendekatan stabilisasi klasik menghadapi tekanan eksternal seperti kondisi hari ini. Strategi pre-emptive dan ahead the curve dianggap masih relevan menjaga stabilitas rupiah dalam situasi penuh tekanan global. Menurut dia, kenaikan BI Rate sebesar lima puluh basis poin mulai terlihat masuk akal perdagangan pekan ini.

“Kenaikan suku bunga diperlukan agar Indonesia tidak membayar harga lebih mahal pada masa mendatang,” ujar Fakhrul Fulvian lagi. Ia menilai langkah tersebut bukan tanda ekonomi domestik runtuh ataupun inflasi nasional sudah tidak terkendali sepenuhnya. Kebijakan itu justru diperlukan menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia beberapa bulan mendatang nanti.

Fixed Income dan Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, juga melihat tekanan rupiah masih cukup berat. Menurut dia, rupiah berpotensi bergerak menuju rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS perdagangan berikutnya nanti. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan BI Rate semakin besar menjelang keputusan Bank Indonesia besok siang.

“Kami memperkirakan BI Rate naik menjadi lima persen akibat tekanan depresiasi rupiah masih sangat kuat,” ujar Lionel Priyadi. Pasar menunggu sinyal lebih agresif dari Bank Indonesia demi meredakan tekanan nilai tukar beberapa hari terakhir perdagangan. Level Rp17.700 juga mulai dianggap batas psikologis penting pelaku pasar keuangan domestik saat ini.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, ikut melihat peluang kenaikan BI Rate semakin terbuka perdagangan pekan ini. Menurut dia, peluang kenaikan dua puluh lima basis poin mencapai sekitar enam puluh lima persen menjelang RDG BI. Tekanan rupiah dan harga minyak masih menjadi perhatian utama pelaku pasar domestik sepanjang perdagangan hari ini.

“Jika tekanan rupiah bertahan di atas Rp17.500, maka peluang kenaikan suku bunga semakin besar,” ujar Josua Pardede. Ia menilai Bank Indonesia mulai mengutamakan stabilitas dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dalam situasi pasar seperti hari ini. Langkah tersebut dianggap penting menjaga keyakinan investor terhadap ekonomi nasional beberapa bulan mendatang nanti.

Josua juga mengingatkan bahwa kenaikan BI Rate tidak otomatis membuat rupiah langsung kembali menuju level Rp16.500 pada perdagangan berikutnya nanti. Kebijakan tersebut lebih bertujuan memperlambat pelemahan serta menjaga daya tarik aset berbasis rupiah di pasar domestik. Situasi hari ini terasa seperti ember bocor ditutup dengan lakban tipis ketika hujan deras belum berhenti turun.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya masih optimistis rupiah kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026 mendatang. Perry menilai pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi faktor global serta kebutuhan musiman permintaan valuta asing nasional. Bank Indonesia juga masih yakin rata-rata kurs rupiah tahun ini tetap sesuai asumsi APBN nasional.

“Kami meyakini rupiah akan menguat kembali setelah langkah stabilisasi dilakukan pada Juli dan Agustus,” ujar Perry Warjiyo, Senin, 18 Mei 2026. Ia memperkirakan rata-rata kurs rupiah sepanjang tahun berada sekitar Rp16.500 per dolar AS. Pernyataan tersebut tetap belum mampu sepenuhnya meredakan kegelisahan pasar perdagangan hari ini.

Mayoritas mata uang Asia sebenarnya ikut mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir perdagangan global. Won Korea Selatan, yen Jepang, hingga dolar Taiwan sama-sama melemah terhadap mata uang Amerika Serikat hari ini. Namun, pelemahan rupiah tetap paling menjadi sorotan karena mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah perdagangan domestik nasional.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah sekitar 5,82 persen sejak akhir tahun 2025 hingga perdagangan hari ini. Pelemahan tersebut membuat rupiah masuk daftar mata uang Asia paling tertekan sepanjang tahun berjalan 2026 saat ini. Suasana pasar domestik akhirnya terasa seperti konser musik mati lampu ketika penyanyi utama baru naik panggung.

Tekanan pasar juga muncul akibat kekhawatiran inflasi impor jika rupiah terus bergerak melemah dalam waktu cukup lama nantinya. Harga energi, logistik, dan barang impor berpotensi ikut naik mengikuti penguatan dolar AS perdagangan global beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan Bank Indonesia semakin sempit menjelang RDG pekan ini.

Pasar juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang mulai tergerus akibat intervensi menjaga stabilitas nilai tukar domestik belakangan ini. Cadangan devisa April tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS atau setara 5,8 bulan impor nasional perdagangan terakhir. Meski masih cukup besar, tekanan berkepanjangan tetap membuat investor mulai terlihat semakin berhati-hati hari ini.

Kenaikan BI Rate juga memiliki risiko terhadap kredit perbankan serta pertumbuhan sektor riil ekonomi nasional mendatang. Suku bunga kredit berpotensi meningkat sehingga dunia usaha harus menghadapi biaya pinjaman lebih mahal dalam beberapa bulan mendatang. Situasi tersebut membuat Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional dan perdagangan berikutnya.

Pelaku pasar akhirnya menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2026 besok siang. Keputusan tersebut dianggap menjadi penentu arah rupiah serta keyakinan investor terhadap ekonomi domestik beberapa bulan mendatang. Pasar berharap Bank Indonesia tidak tampil terlalu santai ketika rupiah sudah ngos-ngosan sejak pagi tadi.

 

 

 

Sumber: SM News.com

Berita Lainnya

Index