Danai Perang Dagang, Rupiah Menguat ke Rp14.198 per Dolar AS

Ilustrasi.

JAKARTA, RIAUREVIEW.COM -Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.198 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (30/8) sore. Rupiah menguat 0,28 persen dibanding penutupan pada Kamis (29/8) yakni Rp14.238 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.237 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.254 per dolar AS. Hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.194 hingga RpRp14.244 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,04 persen, ringgit Malaysia menguat 0,05 persen, yen Jepang menguat 0,08 persen, dan baht Thailand menguat 0,14 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,25 persen, rupee India menguat 0,42 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,42 persen. Di sisi lain, terdapat mata uang yang melemah terhadap dolar AS yakni dolar Singapura sebesar 0,04 persen dan yuan China sebesar 0,08 persen.

Mata uang negara maju terpantau melemah terhadap dolar AS seperti poundsterling Inggris sebesar 0,06 persen, euro sebesar 0,15 persen, dan dolar Australia sebesar 0,15 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan nilai tukar rupiah yang berkibar disebabkan oleh meredanya tensi perang dagang antara AS dan China. Rencananya, kedua negara akan menggelar dialog dagang di Washington pada awal September.

Hal itu dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng. Ia mengatakan, China bersedia bernegosiasi dengan AS dengan sikap kepala dingin.

"Presiden AS Donald Trump mengatakan beberapa diskusi sedang berlangsung pada Kamis, menjelang tenggat waktu yang membayangi untuk tambahan tarif AS pada 1 September mendatang," jelas Ibrahim yang dilansir CNNIndonesia, Jumat (30/8).

Kemudian, rupiah juga terdorong ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga acuan bank sentral AS The Fed pada 18 September mendatang. Penurunan diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi AS yang belakangan dihantui ancaman resesi.

"Apalagi Trump sekali lagi mengkritik The Fed karena tidak cukup memotong suku bunga," papar dia.




Baca Juga Topik #Rupiah

TULIS KOMENTAR