RIAUREVIEW.COM --Suasana di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bengkalis mendadak gerah pada Senin, 9 Maret 2026. Bukan karena cuaca yang terik, melainkan karena kedatangan rombongan orang tua dari delapan anak yang diduga korban pelecehan oleh seorang kakek berusia 70 tahun.
Wajah mereka tampak kusut menahan amarah sekaligus cemas. Mereka datang membawa satu pertanyaan besar: "Ke mana perginya si kakek predator dan kenapa belum ditahan polisi?"
Berdasarkan laporan resmi dengan nomor surat LP/B/067/III/2026/SPKT/POLRES BENGKALIS, kasus ini sebenarnya sudah pecah sejak 1 Maret lalu. Saat itu, warga Desa Pematang Duku Timur berhasil menangkap basah kakek S yang sedang melakukan aksi tidak senonohnya. Sore itu juga, pelaku digelandang ke kantor polisi dengan harapan keadilan segera tegak, namun skenario berkata lain.
Proses hukum yang diharapkan lari kencang ternyata harus terhambat drama kesehatan sang kakek. Begitu sampai di kantor polisi, S mendadak mengeluh sesak napas yang membuatnya harus dilarikan ke RSUD Bengkalis. Masalah muncul ketika usai mendapatkan perawatan medis, batang hidung si kakek tak lagi terlihat di sel tahanan, alias menghilang tanpa jejak yang jelas.
"Kami kembali mempertanyakan kepada penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Bengkalis mengapa pelaku belum juga ditahan dan di mana keberadaannya saat ini," ujar Suhaimi, salah satu orang tua korban dengan nada bergetar menahan kesal, Senin (9/3). Kalimat itu mewakili jeritan hati para orang tua yang merasa anak mereka belum mendapatkan perlindungan hukum yang seharusnya.
Drama Sesak Napas dan Jejak yang Hilang
Kisah pilu ini bermula dari iming-iming imbalan yang diberikan kakek S kepada para korban yang masih berusia 4 hingga 10 tahun. Dengan polosnya, bocah-bocah malang ini masuk ke dalam perangkap sang kakek yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Aksi bejat ini akhirnya terbongkar saat warga memergoki langsung perbuatan pelaku di lokasi kejadian yang langsung memicu kemarahan massa.
Setelah sempat diamankan dan dibawa ke rumah sakit, keberadaan S kini menjadi misteri yang bikin emosi orang tua korban makin memuncak. Pihak keluarga korban merasa ada yang janggal karena setelah keluar dari RSUD, pelaku tidak langsung dijebloskan ke jeruji besi. Alibi sesak napas sang kakek seolah menjadi tiket gratis untuk menghirup udara bebas sementara waktu.
Suhaimi menceritakan bahwa seluruh korban sudah menjalani visum untuk melengkapi bukti-bukti di persidangan nanti. Namun, hasil medis tersebut kabarnya baru bisa keluar dalam waktu tiga minggu ke depan, sebuah penantian yang terasa sangat lama bagi keluarga yang sedang berduka. Ketidakpastian ini membuat para orang tua merasa pelaku sengaja memanfaatkan waktu untuk melarikan diri dari tanggung jawab.
"Setelah pulang dari rumah sakit, pelaku tidak lagi terlihat dan tidak dilakukan penahanan oleh pihak kepolisian," tambah Suhaimi lagi. Rasa tidak percaya mulai tumbuh di tengah masyarakat Desa Pematang Duku Timur terhadap penanganan kasus ini. Mereka khawatir jika tidak segera ditangkap, predator ini akan mencari mangsa baru di tempat persembunyiannya yang belum terendus.
Janji Manis Polisi: Buru Sampai Dapat!
Menanggapi keresahan warga yang mulai membara, Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar melalui Kasat Reskrim Iptu Yohn Mabel akhirnya angkat bicara. Iptu Yohn menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak akan tinggal diam dan tetap berkomitmen menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. Ia meminta keluarga korban untuk tetap tenang dan memberikan waktu bagi penyidik untuk bekerja mengejar pelaku yang diduga kabur tersebut.
Tim penyidik saat ini tengah bergerak aktif menyisir setiap sudut yang diduga menjadi tempat pelarian kakek S. Selain itu, polisi juga sedang menelusuri apakah pelaku dijemput oleh pihak keluarga saat keluar dari rumah sakit atau memang nekat melarikan diri atas inisiatif sendiri. Status S kini resmi menjadi target operasi pencarian intensif oleh jajaran Satreskrim Polres Bengkalis.
"Kasus ini pasti akan diproses dengan seksama karena sudah ada laporan resmi dan kami sangat memahami keluarga korban berhak mendapatkan keadilan," ungkap Iptu Yohn Mabel dengan nada tegas. Penegasan ini diharapkan bisa mendinginkan suasana panas yang sempat menyelimuti markas polisi saat para orang tua korban datang mengadu. Polisi berjanji akan memberikan informasi terbaru setiap kali ada kemajuan berarti dalam pengejaran sang kakek.
Iptu Yohn juga mengklarifikasi bahwa tindakan membawa pelaku ke rumah sakit murni karena alasan kemanusiaan dan prosedur medis darurat. Namun, ia menjamin hal tersebut tidak akan menghentikan proses hukum yang sedang berjalan. Kini, penyidik sedang bersiap melakukan gelar perkara untuk memperkuat konstruksi hukum agar sang kakek tidak bisa lagi mengelak saat berhasil diringkus nanti.
Trauma Mendalam dan Bayang-bayang Predator
Di balik hiruk-pikuk pencarian pelaku, ada delapan jiwa mungil yang kini harus berjuang melawan trauma psikologis yang sangat berat. Pendampingan dari pihak RT/RW dan tokoh masyarakat setempat menjadi satu-satunya sandaran bagi para korban selain pelukan hangat orang tua mereka. Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi keamanan lingkungan desa yang selama ini dianggap tenang dan damai.
Ketidakjelasan hukum selama sepekan terakhir benar-benar menguras energi dan emosi para keluarga korban di Bengkalis. Mereka berharap polisi bisa bergerak lebih gesit sebelum pelaku semakin jauh meninggalkan jejak digital maupun fisiknya. Rasa aman warga baru akan pulih sepenuhnya jika sang predator sudah mengenakan rompi oranye dan mendekam di balik terali besi.
Masyarakat juga diimbau untuk segera melapor jika melihat sosok kakek S berkeliaran di wilayah mereka agar penangkapan bisa segera dilakukan. Kasus pencabulan anak di bawah umur adalah kejahatan luar biasa yang membutuhkan perhatian serius dari semua lapisan elemen masyarakat. Jangan sampai karena alasan kesehatan yang dibuat-buat, seorang penjahat kelamin bisa melenggang bebas tanpa tersentuh hukum.
"Kami akan terus memantau perkembangan kasus dan segera memberikan informasi terbaru secepatnya," tutup Iptu Yohn Mabel mengakhiri sesi tanya jawab. Perjalanan mencari keadilan bagi delapan bocah Bengkalis ini masih panjang, namun setidaknya cahaya harapan mulai muncul seiring janji tegas dari aparat penegak hukum. Kini, publik menunggu pembuktian nyata dari kepolisian: tangkap sang kakek dan berikan hukuman seberat-beratnya!
Sumber: SM News.com

