Perang Dagang, AS-China Lanjutkan Perundingan

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan di G-20, Osaka, Jepang, pertengahan tahun ini. (REUTERS/Kevin Lamarque).

JAKARTA, RIAUREVIEW.COM -Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China berencana memulai kembali perundingan perdagangan di Washington DC, AS, pada awal Oktober 2019. Rencana ini menghilangkan kekhawatiran banyak pihak tarif impor yang baru diberlakukan pada 1 September lalu akan membuat negosiasi perang dagang akan berlarut-larut.

Dilansir AFP dan CNNIndonesia, Kamis (5/9), dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu terlibat dalam pertikaian tarif impor untuk barang-barang ratusan miliar dolar AS sejak awal tahun lalu.

Keterangan resmi Kementerian Perdagangan China menyebut seharusnya pembicaraan antara kedua negara dimulai pada bulan ini. Namun, Wakil Perdana Menteri Liu He bersama Perwakilan Dagang AS Robert Lightnizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin sepakat menundanya hingga awal bulan depan.

"Para petinggi kedua negara sepakat untuk bekerja sama dan menciptakan kondisi yang menguntungkan. Kedua pihak akan menjaga komunikasi yang erat jelang pembahasan," tulis Kementerian Perdagangan China.

Kabar ini disambut banyak pihak sebagai optimisme dalam mengakhiri perang dagang, yang disebut-sebut telah 'melukai' ekonomi termasuk mengguncang diplomatik antara dua dengan kekuatan besar.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menaikkan tarif impor untuk barang-barang seharga lebih dari setengah triliun dolar AS. Hal itu memicu China untuk merespons dengan tarif baru terhadap barang-barang AS senilai US$75 miliar.

Puncak ketegangan kedua negara terjadi selama musim panas. Awal pekan ini saja, Trump menuding negosiator China bertahan untuk mencari kesepakatan yang lebih menguntungkan jelang pemilihan umum di AS.

Sementara, Trump menuding balik bahwa China terpaksa kembali ke meja perundingan karena perlambatan mulai terasa di negaranya.

Seperti diketahui, ekonomi China tumbuh lebih lambat. Hal itu tidak dapat dipungkiri. "Para pejabat di China tengah membahas langkah-langkah baru untuk menjaga ekonominya tumbuh di tengah lingkungan eksternal yang kian rumit dan menantang," imbuh keterangan resmi tersebut.

Pekan ini, para ekonom memangkas perkiraan mereka terhadap pertumbuhan ekonomi China pada 2020 menjadi di bawah 6,0 persen. Alasannya, peningkatan tensi hubungan dan risiko akibat perang dagang AS-China.

Namun, belakangan sektor manufaktur AS juga terkontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Banyak ekonom memperkirakan tanda yang mengkhawatirkan dari ekonomi AS.



TULIS KOMENTAR