RIAUREVIEW.COM --Batam mendadak panas setelah Imigrasi membongkar apartemen mewah berisi 210 WNA terduga scammer internasional, Jumat 8 Mei 2026. Ratusan laptop, komputer, ponsel, hingga paspor disita. Dugaan jaringan penipuan investasi lintas negara kini mengarah ke sindikat Asia Tenggara.
Direktorat Jenderal Imigrasi membongkar dugaan pusat penipuan investasi daring lintas negara di sebuah apartemen di Kecamatan Lubuk Baja, Kepulauan Riau. Sebanyak 210 warga negara asing langsung diamankan bersama ratusan perangkat elektronik, paspor, serta alat komunikasi digital.
Operasi senyap tersebut menjadi perhatian besar lantaran dugaan jaringan scam internasional mulai menjalar ke Indonesia. Petugas menemukan pola kerja rapi menyerupai kantor operasi profesional dengan ruang kendali, area kerja, serta tempat tinggal terintegrasi. Situasi itu memperlihatkan skema penipuan digital berjalan secara sistematis dan terorganisir.
Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Hendarsam Marantoko, mengungkap penggerebekan dilakukan usai penyelidikan panjang sejak pertengahan April 2026. Informasi intelijen awal mengarah kepada aktivitas mencurigakan ratusan WNA di apartemen tersebut. Tim kemudian menjalankan pengawasan tertutup selama beberapa pekan sebelum bergerak menangkap seluruh penghuni.
“Pengamanan dilakukan setelah ditemukan indikasi kuat para WNA menjalankan aktivitas tidak sesuai izin tinggal,” ujar Hendarsam Marantoko dalam konferensi pers di Batam, Jumat, 8 Mei 2026.
Sebanyak 125 WNA Vietnam, 84 WNA China, serta seorang WNA Myanmar diamankan petugas gabungan. Jumlah laki-laki mencapai 163 orang, sedangkan perempuan tercatat 47 orang. Mayoritas memakai izin tinggal kunjungan, Visa on Arrival, hingga visa investor.
Jenis izin tersebut ternyata tidak mengizinkan aktivitas kerja maupun operasional bisnis digital berskala besar. Temuan itu langsung memperkuat dugaan penyalahgunaan izin keimigrasian. Imigrasi kemudian membawa seluruh WNA menuju Kantor Imigrasi Batam untuk pemeriksaan mendalam.
Penggerebekan berlangsung cepat namun terukur sejak Rabu pagi, 6 Mei 2026. Sebanyak 58 personel gabungan bergerak menuju dua titik sasaran sejak pukul 06.00 WIB. Dua jam berselang, apartemen tersebut sudah terkepung dan seluruh penghuni berhasil diamankan.
Petugas menemukan ruangan penuh komputer menyala seperti pusat kendali operasi digital internasional. Beberapa meja berisi monitor berjajar menyerupai ruang perdagangan saham profesional. Namun, hasil pemeriksaan awal justru mengarah kepada praktik scam trading berkedok investasi daring.
Sebanyak 131 komputer, 93 laptop, 492 telepon genggam, dan 52 monitor langsung disita petugas. Selain itu, terdapat perangkat jaringan internet, mesin penghitung uang, serta ratusan paspor berbagai negara. Jumlah barang elektronik tersebut memperlihatkan bahwa skala operasi sangat besar.
“Dari hasil pemantauan diperoleh indikasi lokasi digunakan sebagai pusat aktivitas terorganisir,” kata Hendarsam Marantoko.
Pemeriksaan perangkat elektronik membuka pola penipuan yang cukup rapi dan agresif. Korban diduga berasal dari Eropa serta Vietnam dengan sasaran utama pengguna media sosial. Pelaku memancing korban dengan promosi investasi menggiurkan sebelum mengarahkan transfer dana menuju platform fiktif.
Modus seperti itu sebenarnya bukan pola baru di Asia Tenggara. Namun, skala operasi di Batam mengejutkan banyak aparat keamanan nasional. Apartemen mewah berubah menjadi markas penipuan digital internasional tanpa banyak sorotan publik sebelumnya.
Sekretaris NCB Interpol Indonesia, Brigjen Untung Widyatmoko, menyebut jaringan tersebut memiliki keterkaitan dengan kelompok scammer lintas negara. Dugaan koneksi mengarah kepada sindikat yang sebelumnya muncul di Bali, Surabaya, hingga Jawa Tengah.
Aparat mulai membaca pola perpindahan kelompok scam internasional menuju Indonesia. “Indonesia sekarang mulai dimasuki scammer bubaran dari Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam,” ujar Brigjen Untung Widyatmoko.
Untung menjelaskan bahwa kelompok serupa sebelumnya ditemukan memakai atribut polisi palsu hingga mockup kantor luar negeri. Aparat bahkan pernah menemukan replika kantor kepolisian China serta Jepang dalam operasi terdahulu. Pola itu identik dengan jaringan penipuan digital internasional di Asia Tenggara.
Fenomena perpindahan sindikat scam mulai menjadi ancaman serius kawasan regional. Tekanan aparat keamanan negara tetangga membuat kelompok tersebut mencari basis operasi baru. Indonesia dinilai memiliki celah besar lantaran tingginya arus keluar-masuk WNA.
Batam kemudian muncul sebagai titik strategis bagi jaringan lintas negara tersebut. Lokasinya dekat dengan jalur internasional serta memiliki banyak hunian vertikal modern. Mobilitas tinggi membuat aktivitas kelompok asing lebih mudah tersamarkan.
Selain penipuan investasi, aparat juga membuka kemungkinan keterkaitan dengan perjudian daring dan love scam. Jenis kejahatan digital seperti itu berkembang cepat di media sosial dan aplikasi percakapan. Korban biasanya dijebak secara emosional sebelum kehilangan dana besar. “Tidak menutup kemungkinan ada gambling online dan scammer lainnya,” kata Brigjen Untung Widyatmoko.
Petugas kini memeriksa data digital dari ratusan perangkat elektronik yang diamankan. Analisis forensik dilakukan guna melacak aliran komunikasi dan transaksi lintas negara. Aparat juga menelusuri kemungkinan keterlibatan warga negara Indonesia dalam jaringan tersebut.
Sebanyak 198 paspor ditemukan tersebar di beberapa ruangan apartemen. Sebagian dokumen diduga terkait dengan pengendali utama operasi scam internasional tersebut. Temuan itu membuka dugaan adanya struktur komando terpisah di lokasi berbeda.
Imigrasi memakai Pasal 75 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 untuk menjerat seluruh WNA. Ketentuan tersebut memberi kewenangan tindakan administratif terhadap orang asing yang melanggar aturan. Seluruh pelaku kini ditempatkan dalam ruang detensi sambil menunggu proses lanjutan. “Seluruh pelanggar menjalani proses deportasi dan penangkalan,” ujar Hendarsam Marantoko.
Meski demikian, proses hukum pidana masih terbuka apabila ditemukan unsur kejahatan lain. Imigrasi berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau guna memperdalam penyidikan. Aparat ingin memastikan jaringan tersebut tidak berkembang lebih luas di Indonesia.
Kasus Batam memperlihatkan perubahan wajah kejahatan digital internasional yang semakin brutal dan modern. Apartemen mewah kini bisa berubah menjadi pabrik penipuan lintas negara tanpa suara. Aktivitas berlangsung secara senyap menggunakan jaringan internet dan manipulasi psikologis terhadap korban.
Sumber: SM News.com

