Harga Tiket Pesawat Mahal Tahan Pertumbuhan Konsumsi

Ilustrasi

JAKARTA, RIAUREVIEW.COM -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,01 persen sepanjang kuartal I 2019, hanya naik 0,07 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga tiket pesawat yang mahal disebut menahan laju pertumbuhan konsumsi. 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan hampir seluruh komponen konsumsi bertumbuh dibanding tahun sebelumnya. Konsumsi masyarakat di kesehatan dan pendidikan tumbuh 5,66 persen atau lebih baik dibanding tahun sebelumnya 5,49 persen. 

Kemudian, pertumbuhan konsumsi di makanan minuman juga naik dari 51,4 persen tahun kemarin menjadi 5,29 persen di tahun ini

"Ini tentu ada pengaruh dari pengeluaran dana bantuan sosial dalam jumlah besar yang digelontorkan pemerintah sejak awal tahun," kata Suhariyanto yang dilansir CNNIndonesia, Senin (6/5).

Kendati demikian, BPS juga mencatat pertumbuhan beberapa komponen konsumsi yang melemah. Pertama, konsumsi masyarakat untuk transportasi dan komunikasi hanya 4,91 persen di tahun ini atau melambat dibanding tahun sebelumnya 4,96 persen. Kemudian, konsumsi restoran dan hotel juga melambat dari 5,64 persen di tahun lalu menjadi 5,42 persen di tahun ini.

Suhariyanto bilang, hal tersebut tak lepas dari kenaikan harga tiket pesawat yang menjadi momok sejak awal tahun ini. Kenaikan tarif pesawat, lanjut dia, juga mempengaruhi jumlah pengguna pesawat domestik pada kuartal I 2019. 

BPS mencatat total penumpang pesawat domestik Januari hingga Maret tahun ini di angka 18,32 juta orang, atau turun 17,66 persen dari tahun sebelumnya 22,25 juta orang.

"Dan kami juga mencatat tingkat hunian kamar juga turun, sehingga tiket pesawat yang mahal berkontribusi ke penurunan konsumsi tersebut," imbuh dia.

Ia meyakini, pertumbuhan konsumsi di kuartal II akan lebih baik seiring memasuki masa ramadan dan idul fitri. Namun, ia meminta pemerintah untuk fokus ke harga tiket pesawat terbang karena dampaknya ke konsumsi akan sangat signifikan di tengah masa-masa mudik.

"Secara tren, bulan puasa dan Idul Fitri akan menaikkan konsumsi, jadi kami masih meyakini kuartal ini pertumbuhan konsumsinya akan jauh lebih baik," tutur Suhariyanto.

BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen, di mana konsumsi masih menjadi penyumbang terbesar yakni 56,82 persen. Kemudian, BPS juga mencatat pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 16,93 persen karena aktivitas kampanye pemilihan presiden, wakil presiden, dan legislatif menjelang pemilu 17 April 2019 kemarin. 



TULIS KOMENTAR