BPS: Harga Beras Eceran Naik 1,1 Persen

Ilustrasi

JAKARTA, RIAUREVIEW.COM -Badan Pusat Statistik (BPS) melansir harga rata-rata beras di tingkat eceran naik 1,1 persen secara bulanan (month to month) pada Januari 2019. Kenaikan harga beras ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2018 yang mencatat kenaikan 0,8 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga ini sejalan dengan kenaikan harga gabah, yang memang kerap terjadi sebelum memasuki masa panen yang dimulai pada bulan ini. 

Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani tercatat Rp5.353 per kilogram (kg), atau naik 2,22 persen ketimbang Desember, yakni Rp5.237 per kg. Hasilnya, harga beras medium di tingkat penggilingan naik 1,06 persen dari Rp9.798 per kg ke Rp9.903 per kg. 

Di sisi lain, harga beras premium juga meningkat dari Rp9.818 per kg ke angka Rp10.111 per kg. 

"Tapi pergerakan harga gabah ini akan menurun pada Februari dan Maret, dan pada puncak panen raya akan turun. Pergerakannya akan selalu seperti itu," jelasnya yang dilansir CNNIndonesia, di Gedung BPS, Jumat (1/2).

Meski demikian, kenaikan harga beras pada Januari kemarin dianggap tidak berbahaya layaknya Januari tahun lalu. Pada Januari 2018, beras memberi andil inflasi sebesar 0,24 persen, sementara tahun ini andil inflasi beras hanya 0,04 persen terhadap total inflasi Januari sebesar 0,32 persen.

Hal ini juga terlihat dari GKP Januari 2019 sebesar Rp5.453 per kg, yang lebih rendah 1 persen ketimbang tahun lalu Rp5.508 per kg. "Secara year on year memang lebih baik tahun ini dibanding tahun lalu," katanya.

Dengan demikian, maka Nilai Tukar Petani (NTP) secara otomatis juga ikut meningkat. BPS mencatat, NTP pada Januari ada di angka 103,33 atau meningkat 0,16 persen dibanding bulan sebelumnya 103,16. Komoditas tanaman pangan sudah barang tentu mengalami kenaikan terbesar, yakni 0,52 persen.

Hanya saja, kenaikan NTP tanaman pangan tidak diikuti dengan NTP peternakan yang justru turun 0,08 persen secara bulanan. Suhariyanto menyebut harga pakan ternak yang melangit bikin biaya yang dikeluarkan petani semakin membengkak. Sementara, kenaikan harga yang diterima peternak tidak sesuai dengan kenaikan harga bahan bakunya.

"Ini kemudian terkonfirmasi di Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yang mengesampingkan konsumsi petani. NTUP peternak turun 0,25 karena ada kenaikan di harga pakan," tutur Suhariyanto.



TULIS KOMENTAR