Bersama Rakyat, Prabowo Subianto Siapkan Surat Wasiat

Herianto, SE, IM.

Indonesia…!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!

CALON PRESIDEN RI H Prabowo Subianto Djojohadikusumo bersama calon wakil Presiden RI Sandiaga Salahuddin Uno hingga saat ini masih tegar. Jelang diumumkannya hasil resmi penetapan pemenang Pemilu Presiden (Pilpres) tanggal 22 Mei 2019 mendatang.

Menarik memang, tepat 22 Mei 2019 bertepatan 17 Ramadan. Di saat hari itu, terjadi perang badar. Perang Badarkah nanti. Dulu perang pertama Rasulullah terjadi pada 17 Ramadan di Sumur Badar. Di mana 1.000 pasukan Quraisy lengkap dengan segala persenjataan perang, melawan 313 kaum muslimin tanpa persiapan perang.

Dikala itu, para musuh sangat yakin mereka akan menang, sombong dan penuh dengan keangkuhan. Mereka mengancam, mereka membuat makar. Namun Allah Subhana Wa Ta’ala, turunkan balatentara-nya dari para Malaikat membantu kaum muslimin.

Musuhpun akhirnya takluk porak poranda, bahkan sejarah mencatat gembong kafir Quraisy musuh utama ummat Islam yaitu Abu Jahal tewas terbunuh mengenaskan dalam peperangan. Peristiwa itu di kenal dengan Perang Badar.

Perang Badar akhir zaman nampaknya akan terjadi sebentar lagi. Bukan di padang pasir, bukan di negeri Arab, tapi di negeri hijau ini, di negeri kita Indonesia tercinta dan bukan perang dengan senjata, tapi perang secara konstutisional alias perolehan suara pemilu.

Tepat 22 Mei 2019 nantinya, akan diketahui pengumuman resmi siapa yang akan menjadi presiden terpilih 2019-2024, bersamaan dengan 17 Ramadan, tepat di tanggal terjadinya Perang Badar di zaman Nabi Muhammad SAW. Dimana sejarah itu adalah awal bangkitnya ummat Islam mengukir sejarah emasnya.

 

Akankah sejarah akan terulang ?

Akankah kemenangan menjadi milik ummat Islam ?

Hanya Allah yang tau, dan Ia adalah sebaik-sebiknya pengatur alam semesta ini. Ya Allah kami mohon kemenangan dari-Mu.

 

Sepenggal kisah perang badar tentu akan menarik perhatian umat Islam di Indonesia. Sebagai mayoritas penganut Agama Islam di Dunia. Muslim terbesar bukan hanya klim atau sesumbar belaka. Namun, laporan Pew Research, sebuah lembaga riset global, mencatat pada Tahun 2010 lalu, Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia. Padah tahun itu, tercatat 209,1 juta jiwa lebih penduduk Indonesia merupakan muslim.

Sehingga wajar. Dalam pertarungan Pilpres, 17 April 2019 lalu mayoritas muslim mendukung Capres dan Cawapres nomor urut 02. Jika ini ada kaitan dengan Perang Badar, tentunya akan menjadi sebuah sejarah yang terulang.

Saya sebagai salah seorang jurnalis, sedikit mengapresiasi atas capaian hasil perolehan para kontestasi Pilpres. Seperti semangat para pendukung Capres dan Cawapres RI nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Pimpinan tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di bawah Jend. (Purn) Djoko Santoso mengatakan, akan terus melawan kecurangan pemilu yang terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif pada tahun 2019 ini.

Atas dasar kecurangan pemilu yang terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif tersebut maka Prabowo akan terus berjuang bersama rakyat. Karena itu, ia telah menyiapkan wasiat yang disaksikan oleh pihak keluarga dan ahli hukum. Sehingga, keikhlasan perjuangan yang ia lakukan ini dapat diwariskan oleh para pendukungnya demi terciptanya keadilan dan tegaknya sistem demokrasi di Indonesia.

"Saudara sekalian, sore hari ini saya ke kartanegara, saya akan kumpulkan ahli hukum. saya akan membuat surat wasiat saya. Saya katakan, gak usah nakut-nakuti dengan makar-makar. Orang-orang ini, tokoh-tokoh bangsa ini bukan makar. Jenderal itu mempertaruhkan nyawanya dari sejak muda. Mereka tidak makar, kita membela negara dan bangsa Indonesia," ungkapnya di Simposium Mengungkap Fakta kecurangan Pilpres 2019 di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5/2019) lalu.

Prabowo Subianto meminta kepada seluruh aparat penegak hukum di Indonesia untuk tidak menakuti bangsa dengan senjata yang diberikan oleh rakyat. “Ada yang mengatakan Pak Prabowo bagaimana sikapnya. katanya ada yang minta ketemu saya. bolak balik minta ketemu. Berbicara boleh, berunding boleh, menyerah tidak boleh," tegasnya. "Kami masih menaruh secercah harapan. kami menghimbau insan-insan di KPU, kami menghimbau, kau anak-anak indonesia yang ada di KPU, sekarang nasib masa depan bangsa Indonesia ada di pundak mu. kau yang harus memutuskan kau yang harus memilih. menegakkan kebenaran dan keadilan demi keselamatan bangsa dan rakyat indonesia. atau meneruskan kebohongan ketidak adilan, berarti kau mengizinkan penjajahan terhadap rakyat indonesia. kami masih menaruh harapan kepadamu," tandasnya.***

 

Penulis : Herianto, SE, IM

Mantan Pemimpin Redaksi Pekanbaru Pos, Mantan Pemimpin Redaksi Pekanbaru MX dan Mantan General Maneger Riau Pos, Jawa Pos Group.

 



TULIS KOMENTAR