Inflasi Bisa Bengkak Karena Harga Tiket Jelang Nataru

BPS memperkirakan inflasi meningkat jelang akhir tahun karena kenaikan harga tiket pesawat pada Natal dan Tahun Baru. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).

JAKARTA, RIAUREVIEW.COM -Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan harga komponen pengeluaran masyarakat akan meningkat atau inflasi jelang akhir tahun. Hal ini dikarenakan potensi kenaikan harga tiket pesawat jelang libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru).

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan proyeksi ini sejatinya tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, akhir tahun merupakan masa libur bagi masyarakat, sehingga permintaan akan tiket angkutan udara trennya meningkat. 

"Yang perlu diwaspadai adalah tarif angkutan udara, karena biasanya permintaannya naik, maka terjadi kenaikan harga tiket juga," ucap Suhariyanto dilansir CNNIndonesia, Senin (2/12). 

Kendati begitu, peningkatan inflasi karena harga tiket kemungkinan tidak setinggi tahun lalu. Sebab, tahun lalu juga ada kenaikan harga tiket pesawat dari berbagai maskapai. 

Sementara, inflasi dari kelompok bahan pokok kemungkinan ada seiring meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat di hari libur. Namun, ia memperkirakan andilnya tidak begitu besar. 

Sebab, kenaikan harga bahan pokok dalam beberapa bulan terakhir terpantau tidak begitu tinggi dan masih relatif stabil. Salah satunya harga beras yang jadi makanan pokok masyarakat. 

"Harga beras agak naik di level petani, tapi di grosir masih stabil. Harga beras diperkirakan masih stabil di Desember 2019," tutur Suhariyanto. 

Sementara, BPS mencatat tingkat inflasi berada di angka 0,14 persen secara bulanan pada November 2019. Dengan realisasi itu, maka inflasi secara tahunan sebesar 2,37 persen dan secara tahunan 3 persen. 

Inflasi bulan lalu disumbang oleh kelompok bahan makanan dengan andil 0,07 persen. Sedangkan, tingkat inflasinya sebesar 0,37 persen. 

"Inflasi disumbang oleh daging, tomat, telur ayam ras dan sayur-sayuran, meski ada deflasi dari cabai merah dan ikan segar," katanya. 

Andil inflasi lain diberikan oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,4 persen karena kenaikan harga rokok di tingkat pengecer. Selain itu juga oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sekitar 0,03 persen lantaran peningkatan harga sewa rumah. 

Lalu, kelompok kesehatan andilnya 0,01, kelompok sandang serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga berandil nol persen, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru deflasi sebesar 0,07 persen. 

"Ini karena turunnya tarif angkutan udara andilnya 0,02 persen, mungkin karena bukan peak season dan ada penurunan tiket yang tinggi di Tanjung Pandan dan Mamuju," jelasnya. 

Kendati begitu, realisasi inflasi nasional sejatinya masih di bawah target pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen pada tahun ini.



TULIS KOMENTAR